Ketika Impian Menjadi Rencana
2 tahun menghilang, hari ini gua mau mulai menulis lagi, yang berarti ini adalah tulisan pertama yang gua tulis di blog ini, sejak gua sarjana. Alhamdulillah, gua sudah menyelesaikan studi di UGM selama 3,5 tahun. Mungkin banyak cerita yang sebenarnya bisa gua ceritain, tapi sayangnya terlewatkan begitu saja. Kali ini, gua mau bahas impian gua, yang sebenernya sudah gak boleh dibilang impian lagi, melainkan rencana. Seperti yang kita semua tahu, tantangan terbesar mahasiswa adalah menentukan apa yang akan mereka lakukan setelah lulus. Menurut gua, jawabannya bisa dipetakan menjadi 3: Academic, Business, dan Government, yang disingkat menjadi "ABG". Academics, biasanya dekat dengan pendidikan. Jalur ini adalah jalur orang-orang yang memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya untuk mengajar dan melakukan penelitian. Business, ini adalah jalur yang paling banyak dipilih orang-orang pada umumnya. Bekerja di korporat atau membuka usaha sendiri, dengan satu tujuan yang sama: profit. Government, yang satu ini paling dekat dengan dunia politik, karena khususnya di Indonesia, Trias Politika sendiri didominasi oleh partai politik. Hampir gak mungkin seseorang yang independen atau tanpa partai politik, bisa menjadi pimpinan tertinggi eksekutif atau legislatif di negara ini. Orang tua gua gak akan rela kalau anaknya masuk ke jalur yang terakhir ini. Balik ke rencana hidup gua, dari ketiga jalur tersebut, mana yang akan gua pilih? Jujur, ini pilihan yang sulit.
Mungkin saat ini, orang akan berpikir gua menempuh jalur kedua, yaitu Business. Dari kuliah, gua sudah belajar Manajemen dan bahkan saat ini, gua menulis tulisan ini di kantor. Tapi sejujurnya, gua gak berfikir untuk berlama-lama di kantor ini. Gua mau sekolah lagi, tapi berhubung prosesnya yang panjang dan belum pasti, gua memutuskan untuk mencari sedikit pengalaman di kantor. Gua percaya dan gak takut untuk terus mewujudkan impian gua menjadi rencana, karena rasa takut itu wajar, justru katanya kalau kita belum takut sama impian kita sendiri, berarti impian itu belum cukup besar, atau biasa saja. Jadi, saat ini gua sedang berusaha semaksimal mungkin untuk kembali ke jalur pertama, Academics. Gua berencana sekolah lagi tahun depan ke University of Chicago. 2 tahun setelahnya, gua akan balik ke Indonesia tentunya. Gua berencana mengembangkan karir gua. Bekerja di salah satu perusahaan Bulge Bracket sambil memulai berbisnis dan berinvestasi. Setelah 20 tahun gua berkarir di jalur Business, gua berencana untuk memasuki jalur Government. Dengan latar belakang pendidikan dan pengelaman yang gua punya, gua rasa ranah eksekutif yang paling cocok dari ketiga Trias Politika yang ada. Toh, ranah ini pula yang paling dekat dengan motivasi gua untuk masuk ke jalur ketiga ini, yaitu mengoptimalkan kekayaan negara untuk membangun negara, sehingga negara ini menjadi tempat yang lebih baik. Sebenarnya, ini adalah hal yang sudah mulai dilakukan Presiden Indonesia saat ini, dan menurut gua, sangat perlu untuk dilanjutkan. Setelah menghabiskan umur produktif di jalur Business dan Government, gua berencana untuk kembali ke Yogyakarta dan menikmati hari tua gua disana dengan mengajar di kampus tercinta, Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada.
Terlihat mudah kalau diceritakan, namun jalannya pasti panjang dan penuh rintangan, tapi harus dihadapi dengan penuh keyakinan, karena kedewasaan itu muncul ketika kita sudah mentransformasikan impian kita menjadi rencana hidup, mulai memikirkan hal-hal teknis dan mendetil untuk mewujudkan impian kita. Semoga Tuhan bersama orang-orang yang percaya dan berusaha. Aamiin.
Comments