Menyaksikan Sejarah

Pada tahun 1993, sebuah band dengan genre thrash metal datang ke Jakarta. Pada saat itu, mereka mengadakan konser di Lebak Bulus yang (bisa dibilang) kapasitasnya gak terlalu banyak, apalagi untuk menampung orang-orang yang penasaran dengan band unik ini. Akhirnya terjadilah kerusuhan, orang-orang mengamuk akibat gagal masuk untuk menyaksikan konser ini. Band tersebut adalah Metallica, sebuah band yang membuat semua tragedi itu terjadi. 2 tahun setelah tragedi ini, gua lahir. Gua tumbuh berkembang seiring jalannya waktu, sampai akhirnya takdir membuat gua mengenal Metallica, jauh dan lebih jauh. Kemarin pada 25 Agustus 2013, Metallica kembali mengadakan konser di Jakarta, setelah 20 tahun. Gua yang seharusnya ke Yogyakarta untuk mengikuti kegiatan-kegiatan menjelang ospek kuliah, bersikeras untuk tetap bertahan di Jakarta dan menyaksikan konser ini. Gua membeli tiket sebulan sebelum konser ini berlangsung. Sejak membeli tiket, otak gua terus berfikir bagaimana caranya supaya bisa menonton mereka di barisan paling depan. Metallica selalu menemani gua dari kecil hingga tumbuh menjadi remaja saat ini. Rasanya seperti ada yang menghantui gua kalau gak bisa menyaksikan mereka dari dekat, apalagi gak menyaksikan mereka sama sekali. Sehari sebelum konser, gua dan seorang sahabat yang juga penggemar Metallica, Kevin, mengambil tiket di tempat konser akan diselenggarakan keesokan harinya, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kita sepakat untuk menyaksikan Metallica dari barisan paling depan, maka dari itu, kita pun sepakat untuk datang dari pagi agar dapat mendapat barisan depan. Akhirnya saat esok hari tiba, gua bertemu dengan Kevin di tempat yang telah disepakati. Kevin sudah bersama Metalheads dari Bali. Kemudian, mulai berdatangan para Metalheads lain, dari Riau, Solo, Makassar, Surabaya, dan lain sebagainya. Kita berkenalan dan bertukar kontak dengan beberapa. Dari situ, gua merasakan kekeluargaan yang kuat sesama Metalheads. Bayangkan saja, hanya karena sama-sama mendengarkan musik yang sama, kita bisa seakrab itu, berbagi makanan dan minuman, bahkan gak segan untuk menyuruh mampir jika kita sedang bertamu ke daerah mereka. Singkat cerita, hari mulai sore dan gate sudah dibuka. Mungkin itu adalah lari tercepat gua dalam 2 tahun terakhir. Gua lari sekencang mungkin bersama Kevin, dengan rasa khawatir gak mendapat barisan depan, tapi akhirnya kita mendapat barisan terdepan! Malam itu semua orang bersenang-senang. Gua pun bernyanyi sampai suara gua habis. Gua telah menjadi saksi sejarah. Metallica sudah terhitung legenda saat ini, mengingat usia mereka sudah gak lagi muda seperti 20 tahun lalu. Meskipun mereka berjani akan kembali kesini, gua sendiri kurang yakin mereka bakal menepati janji itu. Gua bersyukur bisa menyaksikan mereka. Suatu hari nanti, gua bisa cerita ke anak gua nanti, kalo gua pernah berdiri menyaksikan legenda hidup di depan mata gua.



Comments

Popular posts from this blog

Hiburan di Akhir Liburan

Tanpa Tujuan

Selamat Ulang Tahun Kembali Sahabat-sahabatku