Mimpi, Cita, dan Angan
Lumrah rasanya kalo semua orang punya mimpi yang tinggi. Saat kita masih kecil, kita selalu ditanya oleh orang lain tentang masa depan. Gua sendiri merasakan hal tersebut, hampir semua orang menanyakan hal yang sama kepada gua, "Nanti kalau sudah besar mau jadi apa?". Begitu juga dengan teman-teman sebaya yang lain. Sementara mereka sibuk dengan mimpinya masing-masing menjadi seorang pilot, dokter, polisi, insinyur, dan lain sebagainya, gua selalu gak tau apa cita-cita gua. Semua orang normal pasti ingin bahagia dan menurut gua yang masih lugu saat itu relativitas bahagia dapat diukur dengan mendapatkan profesi yang sesuai dengan hobi. Akhirnya gua pun tumbuh dan mulai melakukan banyak aktivitas, di luar kegiatan sekolah pastinya. Saat itu gua mencoba mencari apa sebenarnya hobi gua atau lebih tepatnya dalam hal apa gua tertarik. Gua menemukan 3 hal menarik yang membuat gua penasaran. Awalnya gua tertarik dengan sepakbola dan sejarahnya. Sepertinya hampir bulat tekad gua saat itu untuk menjadi sepakbola profesional, namun lama-kelamaan gua merasa gua gak bahagia dalam hobi yang satu ini. Gua merasakan ketidaknyamanan dalam permainan bola yang relatif keras dan cenderung beresiko. Akhirnya gua mencoba mencari kegemaran gua yang lain. Semasa di bangku SMP, gua mulai bermusik bersama band rock yang personilnya merupakan teman-teman sebaya di sekolah. Dari situ gua mulai menyukai musik keras dan gua mulai mencari tau tentang sejarah musik keras tersebut. Cukup lama gua bermusik, namun gua merasa bukan pada bidang inilah passion gua. Gua emang lebih cocok jadi penikmat musik dan musisi idealis, bukan profesional. Bermusik lebih cocok untuk self-rewarding buat gua, sebagai hiburan dan pelepas penat, tanpa berekspektasi menghasilkan lebih dari situ. Akhirnya di bangku SMA saat ini, gua baru merasakan apa yang dirasakan oleh ayah. Pepatah mengatakan "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya". Sama seperti beliau ketika masih berseragam putih-abu dulu, gua juga menyukai 2 pelajaran yang menjadi kesukaan beliau; Akuntansi dan Matematika. Disinilah gua merasa dimana bisa nyaman dan masa depan juga bisa terjamin. Dengan harapan penuh dapat menyusul jejak beliau sebagai Akuntan, saat ini, sementara teman-teman sebaya bingung jika berbicara soal masa depan, gua dengan optimis selalu menjawab, "Akuntan!". Namun semua mimpi dan angan ini kembali ke diri gua lagi. Pada dasarnya hidup adalah pilihan, dimana kita bisa bermimpi dalam tidur, terbangun, dan meneruskan tidur untuk terus bermimpi, atau bangun dari tidur dan mencoba mengejar mimpi tersebut.
Comments