Dewi Fotuna
Ini kejadian beberapa minggu lalu, hanya saja baru sekarang, gua ada sempat menulis cerita ini. Jadi, waktu itu, tanggal 8 Oktober 2011, dimana keesokan harinya sepupu gua akan menikah di tanggal yang bagus, yaitu 9 Oktober 2011 atau bisa disingkat dengan "09-10-11". Cukup indah bukan tanggalnya? Kembali lagi ke tanggal 8, dimana gua ditinggal sendiri di rumah, karena seisi rumah sudah berangkat ke Yogyakarta sekitar 3 hari yang lalu untuk ikut membantu persiapan pernikahan sepupu gua ini. Sementara gua, terpaksa sendirian di rumah, karena gua gak mau meninggalkan sekolah hanya untuk sesuatu yang gak seharusnya lebih diprioritaskan daripada pendidikan. Akhirnya, gua berangkat sendiri ke Yogyakarta, tapi gak semulus yang dikira, gua pun mendapat sedikit masalah dengan keberangkatan sendiri ini. Memang ini, kesalahan gua yang menganggap segala sesuatu gak perlu di-back up. Jadi, bokap gua bilang saat ini biaya pajak bandara adalah Rp 20.000,- sehingga gua benar-benar hanya menyisakan untuk biaya transportasi ke bandara dan untuk pajak bandara itu sendiri dari seluruh uang yang ditinggalkan untuk gua berjaga-jaga. Ketika sampai di bandara, duit yang tersisa di dompet benar-benar Rp.20.000,- dan itu untuk membayar pajak bandara tersebut. Namun, masalah datang ketika gua mau check in, petugas memberi tahu bahwa sekarang biaya pajak bandara untuk penerbangan domestik adalah Rp.50.000,- dan itu artinya gua kekurangan Rp.30.000,-. Gua panik seketika, karena bisa jadi kemungkinan terburuk adalah gua gak berangkat ke Yogyakarta, hanya karena kekuarangan Rp.15.000,-. Yang lebih buruk lagi, gua gak bisa pulang ke Bekasi dengan Rp 20.000,-. Sebenarnya gua bisa saja menarik sejumlah uang dari ATM, kalau saja waktu itu kartu ATM gua gak hilang! ATM gua baru hilang beberapa hari sebelumnyha dan belum sempat gua urus. Gua pun semakin panik, tapi gua coba untuk tenang sejenak dan berfikir. Gua berfikir soal Rp.30.000,- yang harus gua dapatkan dan tiba-tiba di benak, gua muncul cover album ini
Ini adalah cover album band gua sendiri, "Struggle All The Way, Suffer All The Time". Kenapa album ini bisa muncul secara tiba-tiba di benak gua? Karena harganya yang sama dengan biaya yang gua butuhkan saat ini, Rp 30.000,-. Akhirnya gua pun dengan sigap membuka ransel dan berharap ada sekeping album yang tertinggal disana. Benar saja, ada 1 keping album yang tertinggal di dalam ransel gua. Akhirnya, gua pun dengan tekad penuh, mulai untuk menawarkannya ke orang dengan harapan ada yang mau membeli. 30 menit berlalu, bahkan semua orang gak ada yang menanggapi tawaran gua, mungkin mereka mengira gua seorang penipu yang menjual tempat CD tanpa isi. 5 menit lagi gua harus boarding dan secercah harapan muncul, gua menemukan sesosok pemuda yang mengenakan baju Kreator, sebuah band asal Jerman yang mengusung aliran Thrash Metal. Gua pun kali ini berusaha untuk berhati-hati dan mengajaknya ngobrol terlebih dahulu soal baju yang dia kenakan. Lalu perlahan, mulai menyinggung soal band gua, EP album pertama gua yang hendak gua jual, dan betapa beruntungnya gua, dia pun punya minat untuk membeli. Tanpa pikir panjang, langsung saja dilangsungkan transaksi tersebut, dan gua menoleh ke jam tangan, Boarding Gate sudah dibuka sekitar 10 menit yang lalu. Akhirnya gua pun berlari tanpa basa-basi lagi ke orang tersebut. Gua sempat menyesal, gak sempat bertukar kontak, bahkan belum tahu namanya, dan bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih. Itu semua karena gua panik, takut ketinggalan pesawat. Pada akhirnya, gua tetap terbang ke Yogyakarta, sesuai yang direncanakan. Tapi yasudahlah, yang penting gua pun sampai Yogyakarta dengan selamat, bertemu dengan saudara-saudara, dan menghadiri resepsi pernikahan sepupu gua. Inilah salah satu foto gua bersama dengan keluarga gua, ketika didandani bak seorang bangsawan Jawa di resepsi tersebut.


Comments