Hanya di Luar Indonesia

Maksud hati bukan berbesar diri, hanya ingin membagikan apa yang telah gua pelajari dan gua dapat di luar Indonesia. Memang 1 bulan bukan waktu yang lama, tapi kalau dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya akan berbeda jadinya. Tujuan utama gua disana memang Sommerkurs, tapi kalo dipikir-pikir lagi, apa gak rugi kalo cuma berangkat kesana, sekolah bahasa disana, terima Zeugnis, terus pulang lagi ke Indonesia? Kakak sepupu gua pernah bilang, "Everything you can't learn at the school, you can learn it on the street, my brother." Itu kenapa gua percaya kalo hidup ini luas dan gak bisa dipelajari hanya dengan duduk di dalam kelas. Di samping gua mendapat sedikit masalah saat di Köln, gua emang berniat mengambil Letzte Prüfung lebih cepat agar gua punya tambahan waktu untuk berlibur untuk melihat Eropa lebih luas. Sampai akhirnya gua lulus ujian, mendapat Zeugnis, dan bebas. Dengan sisa waktu yang gua punya, gua pun sempat mengunjungi beberapa kota selain Köln, seperti Bonn, Stuttgart, München, Frankfurt, Milan (Italia), dan Florence (Italia). Banyak hal yang gua pelajari dari perjalanan ini. Mungkin terlalau panjang kalau gua bahas satu per satu, jadi mungkin gua akan bahas beberapa diantaranya. Sekarang gua sadar kenapa Indonesia, terutama di ibu kota Jakarta selalu padat dan macet setiap harinya. Kita semua tau, sebenarnya keputusan pusat indutsri, pusat pemerintahan, dan ibu kota dalam satu kota adalah salah, tapi itu kenyataannya, sehingga Jakarta seakan gak pernah istirahat. Selain itu, ada juga faktor yang mempengaruhi kepadatan lalu lintas ini. Indonesia merupakan satu dari beberapa negara yang gak menggunakan sistem transportasi seperti Metro dan Tram, sehingga masyarakat lebih memilih untuk memiliki kendaraan pribadi, sampai akhirnya menimbulkan tingginya angka kendaraan pribadi di Indonesia. Seperti yang gua rasakan sendiri di Jerman, sistem transportasi kereta jalan ini benar-benar memudahkan masyarakat untuk pergi ke setiap penjuru kota, bahkan ibaratnya sampai ke tingkat kecamatan. Akhirnya, mereka jadi berfikir 2 kali untuk memiliki kendaraan pribadi yang tentunya butuh biaya tinggi untuk pajak dan perawatannya, sedangkan Metro dan Tram pun sudah nyaman. Lalu contoh selanjutnya, di Indonesia sejarah bukan merupakan sesuatu yang besar melainkan hanya sesuatu yang telah berlalu, seakan semua orang beranggapan, "Yang lalu biarlah berlalu, kita lihat saja ke depan". Padahal apa yang telah berlalu, bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dikenang dan diambil hikmahnya. Itu kenapa banyak negara di Eropa yang benar-benar merawat bangunan tua dan juga taman kota yang memiliki sejarah, berbanding terbalik di Indonesia yang mengorbankan tempat-tempat bersejarah untuk pusat perbelanjaan dan lain sebagainya. Contoh terakhir, masyarakat di Indonesia umumnya bersikap 'dingin' satu sama lain, ini disebabkan oleh tingkat kriminalitas yang tinggi. Untuk sekedar tegur sapa "Selamat Siang" saja langsung timbul prasangka yang buruk. Padahal keharmonisan yang terjalin di masyarakat itu perlu, bagaimana kita saling tegur sapa, saling mengingatkan, kalau ada yang melanggar sesuatu, walaupun kecil bentuknya, dan lain sebagainya. Dengan begini, kita akan merasa nyaman di tanah air kita sendiri. Lucu kan rasanya kalau harus khawatir akan penjahat atau lainnya, ketika sedang berada di negara sendiri. Mungkin itu hal-hal yang bisa gua bagi dari luar Indonesia. Sekali lagi bukan bermaksud sombong, tapi hanya ingin berbagi. Hal-hal lain yang gua dapatkan selama 1 bulan berada disana adalah teman-teman yang baik. Beberapa Diantaranya:
Dennis Bickes dari Jerman,
 

Matěj Langr dari Republik Cek,


Rodrigo Animas dari Meksiko,
 

Lorenzo Avila dari Bolivia,

Nikita Filatov dari Russia,

Laurens Calcoen dari Belgia,

Alperen Aydogan dari Turki,
 
Janis Vilcans dari Latvia,

Yonatan Arbov dari Israel,

Dan ini Dong Xiaoqi dari Republik Cina, sahabat yang paling cantik heh

Comments

Popular posts from this blog

Hiburan di Akhir Liburan

Tanpa Tujuan

Selamat Ulang Tahun Kembali Sahabat-sahabatku