Optimisme
Kemarin gua baru aja melewati hari dengan hal-hal manis, manis artinya tidak ada sedikit pun waktu gua yang sia-sia. Gua bangun pagi, solat shubuh, kemudian memakan sarapan yang telah disiapkan oleh ibu. Kemudian gua sempet bermain komputer sebentar sambil menambah 1 postingan, gua beristirahat kembali sampai akhirnya gua harus siap-siap menuju kantor ayah untuk singgah sementara sebelum pergi ke Goethe-Institut untuk mengurus Sommerkurse yang sudah tidak lama lagi. Karena kalo tidak ada halangan, bulan depan seselesainya gua dengan urusan sekolah gua akan berangkat dan kembali lagi sebelum bulan puasa. Kemudian singkat cerita, gua pun menuju Goethe-Institut bersama ayah dan ibu untuk menemui Pak Alamson untuk mengurus ini. Setelah selesai, tadinya gua disuruh menunggu seorang diri disana sampai waktu les tiba. Tapi karena itu masih terlalu lama dan ibu tidak tega, akhirnya gua diantar kerumah saudara di Teuku Umar. Selain untuk menunggu, hitung-hitung untuk bersilaturahmi disana karena jujur aja gua terakhir kesana kira-kira 10-11 tahun yang lalu. Begitu gua sampai disana, gua pun disambut oleh saudara-saudara gua. Gua pun melepas lelah dengan mengobrol dengan nenek jauh yang sudah lama sekali rasanya tidak bertemu dengannya. Setelah itu masuk waktu Ashar, gua pun putuskan untuk solat terlebih dahulu. Setelah solat dilanjut dengan ngobrol dengan tante gua yang tidak lain adalah ibunda dari Anggita, mereka baru aja pulang dari Bali hari itu. Gua tau mereka semua sangat capek, tapi mereka semua masih bersedia menerima dan menemani gua. Setelah berbincang, sepertinya sudah tidak kuat lagi menahan kantuk akhirnya gua ditinggal sendirian. Gua isi waktu itu dengan membaca materi bahasa Jerman yang telah dipelajari karena sore itu gua akan menghadapi tes keempat bahasa Jerman, yaitu tes tata bahasa dan kosa kata. Sampai akhirnya Anggita bangun dari istirahatnya setelah tenaganya terkuras di Bali, kita sempat sedikit mengobrol. Kemudian gua solat Maghrib dan makan malam bersama mereka, setelah itu gua berpamitan dan mencari bajaj untuk segera bergegas ke Goethe-Institut untuk menghadapi ujian gramatika tersebut. Alhamdulillah gua melewatinya dengan lancar, semua yang gua pelajari di waktu senggang ketika di rumah saudara tadi sangat berguna dan sangat membantu gua dalam mengerjakan tesnya. Andaikan setiap waktu dalam hidup gua bisa selalu seperti ini, betapa bahagianya tidak ada sedikit waktu pun yang terbuang.
Comments