Kehilangannya Bukanlah Akhir Segalanya
Sekitar 3 hari lalu, gua baru saja kehilangan sesuatu yang bisa dibilang hiperbolanya separuh jiwa gua ada disana. Gua kehilangan HP gua ketika pulang sekolah. Jadi gini ceritanya, hari itu bokap gua ingin menemui rekan kerjanya di daerah Pangkalan Jati yang letaknya gak begitu jauh dari sekolah gua. Jadi gua putuskan untuk pulang bersama bokap gua. Agar lebih praktis dan merepotkan, biar gua yang mendatangi ke tempatnya, gua pikir, dibandingkan bokap gua harus menjemput gua lagi ketika selesai bertemu dengan rekannya. Akan tetapi kesalahan terbesar gua adalah sombong, bokap gua menyuruh gua untuk gak pergi sendirian, supaya memastikan aman. Dengan sombongnya, gua berfikir, gua yang paling kuat di antara teman-teman gua yang lain dan gak perlu ditemani untuk pergi menempuh jarak yang hanya sekitar 1 km dari sekolah gua. Akhirnya gua naik angkot sekitar 800 m dan kemudian turun untuk berjalan menuju tempat pertemuan bokap gua dengan rekan kerjanya yang jaraknya sekitar 200 m lagi. Ketika sedang berjalan, tiba-tiba ada seseorang memanggil dari dalam mobil. Gua yang berjalan di trotoar dengan refleks mencari asal suara tersebut. Ternyata salah seorang teman SMP gua, Kirana, memanggil gua, gua pun terus berjalan dengan konsentrasi mengobrol dengannya. Sampai akhirnya gua tanpa sadar menabrak seseorang misterius dan tanpa sadar juga orang terebut merenggut HP gua yang sengaja gua letakkan di kantong dada biar mudah dihubungi. Ketika sudah hampir sampai, gua pun sadar HP gua sudah gak ada dan gua langsung berlari sekencang mungkin untuk mencarinya tetapi hasilnya nihil. Sekarang gua mencoba menghukum diri gua dengan menolak dibelikan HP baru, karena gua memang pantas menerima konsekuensi ini. Gak apa-apa gua pikir, toh tanpa HP, gua masih tetap bisa hidup, lebih tenang bahkan.
Comments