Kasih Sayang Orang Tua pada Anaknya
Gua sudah cukup sering membahas tentang dia dalam tulisan-tulisan gua sebelumnya, tapi kali ini, gua mau berbagi sedikit tentang perjuangannya terhadap anaknya sendiri, yaitu gua. Teman-teman bilang gua harus bersyukur punya bokap yang asik seperti bokap gua, dan gua memang sangat bersyukur akan hal itu. Salah satu bentuk perjuangan bokap gua yang baru gua sadari, dan barangkali gak akan pernah gua lupa sampai kapan pun, adalah bokap gua gak pernah absen menonton gua setiap tampil bersama A Road To Mayhem. Saat A Road To Mayhem manggung pertama kali di acara Angel Form Hell, yang diadakan di daerah Kemang, bokap gua yang mengantar, dan dia menonton jarak yang agak jauh. Acara kedua, yaitu di Pensi Soulastic, yang diadakan oleh sekolah Dion dan Abe, SMP Al-Azhar 6 Jaka Permai. Bokap gua juga datang untuk menonton, walaupun hanya dari kejauhan. Selanjutnya ketika A Road To Mayhem diundang di MOE Cafe, sebuah cafe di bilangan Bintaro, gua memberitahu bokap gua, akan tetapi saat itu, dia memberitahu gua dengan sangat menyesal, kalau kemungkinan besar, dia gak bisa datang untuk menonton, karena harus rapat, tapi kenyataannya, ketika gua main dan stick drum gua patah (untungnya) di bagian break, gua pun panik mencari stick drum pengganti, tiba-tiba salah seorang crew panggung memberikan gua stick, dan betapa kagetnya ketika gua tanya siapa pemilik stick itu (supaya nanti gua bisa mengembalikannya setelah selesai), dia menunjuk ke bokap yang sedang senyum sambil mengacungkan kedua jempolnya untuk gua. Kemudian, di acara Secret Of Axeria Showcase Party 2, yang diadakan di Parkit Dejavu, tempat di daerah Sarinah yang sering menyelenggarakan acara. Awalnya gua pikir bokap gua gak datang untuk menonton dan ternyata gua salah besar, dia menonton gua langsung dari samping drum kali ini. Gua baru sadar ketika ada yang mengambil foto gua dan blitz kameranya membentuk siluet tubuh beliau. Kemudian, acara Blasting Before Fasting di Taman Modern Plaza di daerah Cakung, bahkan bokap gua yang menemani gua, ketika datang untuk technical meeting acara tersebut. Kemudian, September Big Party di Hall Dromotora, sebuah hall di daerah Bulak Kapal, bokap gua juga hadir untuk menonton, walaupun (lagi-lagi) hanya menyaksikan aksi anaknya dari kejauhan. Dan terakhir adalah malam minggu kemarin, beliau masih terlihat sangat lelah akibat dari pekerjaan yang menuntut untuk pulang-pergi ke Bandung, Palembang, dan lain-lain, tapi bokap gua tetap semangat mengantar gua manggung di acara Blasting Before Fasting yang diadakan di Parkit Dejavu. Awalnya gua pikir kasian kalau memaksakan bokap untuk menonton, sehingga gua menyarankan untuk menunggu dan istirahat di mobil, tapi ternyata, karena rasa penasaran, dia pun menyelonong masuk ke dalam, dengan alasan ingin ke kamar mandi. Dia pun ke lantai atas dan kembali menonton gua tampil bersama A Road To Mayhem. Itulah bentuk kasih sayang orang tua yang senantiasa mendukung setiap langkah yang dibuat oleh anaknya, dan menurut gua, itu gak terbayarkan oleh apapun. Oh ya, sebenarnya ada 1 acara yang bokap gua seharusnya benar-benar gak bisa menonton, karena sedang di luar kota, tapi nyatanya kita malah batal main di acara itu, bahkan sahabat-sahabat dari A Road To Mayhem, ada yang mendapat musibah, yaitu mobilnya dibobol oleh preman-preman, itu kejadiannya di Manggarai, karena kebetulan itu merupakan acara amal untuk Mentawai, Wasior, dan Merapi yang diadakan di Viky Sianipar.
Comments