Inovasi Baru
Saatnya kita membahas sesuatu yang menarik. Akhir-akhir ini gua lagi suka dengerin beberapa band baru yang gak asing. Maksudnya band baru yang dengan personil orang-orang lama. Banyak musisi yang melakukan gebrakan baru seperti ini. Sudah gak aktif di band lama, tapi merasa masih produktif, atau mungkin bosan dengan band utamanya, akhirnya membuat suatu inovasi terbaru. Dari sekian banyak, beberapa yang akan gua bahas
1. Them Crooked Vultures
1. Them Crooked Vultures
"This is not a band, but this is The Band of Gods!".
Bayangkan gebukan drum full power dari Nirvana, berkolaborasi dengan melodi gitar dari Queens of The Stone Age, dengan tempo yang dijaga oleh suara bass dari Led Zeppelin. Seperti apa musik yang akan dihasilkan? Pastinya akan sangat berkualitas. Them Crooked Vultures terbentuk di pertengahan 2009, dan hanya beranggotakan 3 personil, namun mereka semua seperti Dewa: Josh Homme (Queens Of The Stone Age), David Eric Grohl (Nirvana), dan John Paul Jones (Led Zeppelin). Walaupun sudah gak muda lagi, namun nampaknya mereka masih memiliki sisa tenaga untuk kembali menggetarkan panggung.
2. The Damned Things
2. The Damned Things
Bubarnya Fall Out Boy, membuat Patrick Stump fokus terhadap proyek solonya, dan Pete Wentz semakin sibuk dengan band barunya, Black Cards. Hal ini membuat Joe Trohman menginginkan suasana baru dalam bermusik. Scott Ian, yang kebetulan sudah kurang produktif bersama Anthrax, mengajaknya untuk membuat terobosan baru. Mereka mulai menulis lirik dan membikin lagu sampe akhirnya mereka merekrut personil-personl lainnya. Untuk penjaga beat, Joe Trohman masih mempercayakannya pada Andy Hurley, yang merupakan drummer Fall Out Boy. Untuk penegas ritme gitar, Scott Ian juga masih mempercayakannya pada Rob Caggiano yang merupakan gitaris Anthrax. Mereka pun kemudian merekrut mantan vokalis Four Year Strong, Keith Buckley, yang sekarang merupakan vokalis dari Everytime I Die, yang kebetulan sama-sama sudah kurang aktif. Berhubung posisi bass masih belum terisi, Keith Buckley pun mempercayai Josh Newton dari Everytime I Die untuk menjaga tempo musik band ini. Mereka pun mulai merilis album perdananya akhir tahun kemarin dengan tajuk Ironiclast.
3. Beady Eye
3. Beady Eye
Mungkin namanya memang asing, tapi coba liat lagi. Band rock asal Inggris ini merupakan Oasis tanpa Noel Gallagher. Berawal dari konflik Liam Gallagher dengan saudara kandungnya, Noel Gallagher, yang menyebabkan bubarnya Oasis pada tahun 2009, membuat Liam Gallagher berambisi membuat terobosan baru yang nantinya akan lebih tenar dibandingkan Oasis. Tetap bersama Gem Archer pada gitar, Chris Sharrock pada drum, dan Andy Bell pada bass, Beady Eye pun mulai merilis album pertamanya bulan lalu, namun gak sesuai harapan Liam Gallagher, nampaknya sampai saat ini, keberadaan Beady Eye belum terhitung bisa mengalahkan eksistensi Oasis. Kita lihat saja prospek Liam Gallagher ke depannya bersama Beady Eye. Different Gear, Still Speeding.
4. Austrian Death Machine
4. Austrian Death Machine
Vokalis As I Lay Dying, Tim Lambesis pun membuat proyek dengan mengusung Parody Thrash Metal. Tim Lambesis membuat lelucon yang berisikan tentang lagu-lagu Thrash Metal. Dengan dibantu sahabat-sahabat musisinya seperti Josh Gilbert dan Nick Hipa dari As I Lay Dying sendiri, Jon "The Charn" Rice dari Job For A Cowboy, Chad Ackerman dari Destroy The Runner, James Gericke dari Death By Stereo, Jason Suecof dari Capharnaum, Mark MacDonald dari Mercury Switch, Adam Dutkiewicz dari Killswitch Engage, Eyal Levi dan Emil Werstler dari Dååth, Jason Barnes dari Haste The Day, Andrew Tapley dari The Human Abstract, Rusty Cooley dari Outworld, Chris Storey dari All Shall Perish, Buz McGrath dari Unearth, Kris Norris dari Darkest Hour, Rocky Gray dari Living Sacrifice, dan banyak lainnya. Jadi gimana? Terinspirasikah untuk membuat inovasi baru?




Comments