Potong Rambut
Mengingat sebentar lagi akan diadakan Ujian Tengah Semester di SMAN 61, gua pun berencana untuk potong rambut sore ini setelah kembali dari Photo Session. Setelah potong rambut, sekarang rambut gua sudah kembali rapih. Gua sedikit jera melanggar peraturan sekolah, jadi gua pikir lebih baik berkorban sedikit, siapa tau nanti di rapot semester 2, nilai afektif gua bisa membaik. Sebenernya, gua gak mau membahas itu semua, yang gua mau bahas adalah tragedi yang terjadi saat gua di tempat potong rambut tadi. Saat gua meminta untuk potong pendek, si tukang cukur pun heran, karena biasanya, bahkan dari kecil, gua paling susah untuk mau potong rambut pendek. Sebenarnya, ini sih efek samping dari bayang-bayang wali kelas yang selalu menghantui. Singkat cerita, rambut gua sudah selesai dipotong. Gua mencoba untuk meminta sedikit bonus dari dia, gua meminta agar jenggot gua juga dicukur. Entah dia senang mencukur jenggot orang, atau memang dia menganggap gua langganan (karena dari kecil selalu potong rambut di tempat itu), dia pun sama sekali gak keberatan, bahkan dia terlihat begitu semangat. Saat dicukur pun, dia menyarankan gua untuk segera membeli minyak firdaus, karena menurutnya dia usia-usia seperti gua ini, jenggot sudah saatnya dilebatkan, tapi gua bilang ke dia kalo gua gak pernah tahu dimana minyak itu bisa dibeli. Seakan semangat melihat seorang anak berambisi menumbuhkan jenggotnya, dia pun berbagi tips. Katanya kalau jenggot sudah mulai tumbuh sedikit, itu harus langsung dicukur, biar semakin lebat dan lebat. Dia juga bilang kalau jenggot gua berpotensi untuk lebat, mulai dari jambang, sambung ke kumis, kemudian jenggot, sampai akhirnya menutupi mulut. Gua pun terdiam membayangkan omongannya, karena memang seperti itu jenggot yang selalu menjadi impian gua. Akhirnya selain diberi bonus cukuran jenggot, gua juga dipijat, namun harga yang harus gua bayar tetap sama, lumayan untuk menghilangkan sejenak rasa lelah hari ini.
Comments