Bersepeda Seharian
Jadi hari jumat kemarin, pukul 04.00, gua sudah bersiap di depan rumah dengan sepeda lipat yang gua pinjam dari nyokap gua, helm sepeda, jaket Corner, baju seragam, baju ganti, dan tas yang berisikan buku sekolah. Hari itu gua dan senior-senior gua berjanji untuk bersepeda bersama-sama ke sekolah. Rencananya, kita kumpul di Hoek, sebelum bersepeda bersama-sama menuju ke sekolah. Gua pun mulai bersepeda menuju ke tempat dimana gua dan salah seorang senior gua, Aldiw, berjanji akan bertemu, untuk bersama-sama bersepeda menuju Hoek. Ketika gua sampai disana, Aldiw pun sudah menunggu, akhirnya kita berdua langsung mulai bersepeda bersama menuju Hoek. Ternyata ketika sampai di Hoek, sekitar pukul 05.00, belum ada yang datang, ternyata kita hadir paling pertama. Akhirnya kita beristirahat dan menunggu yang lain datang. Satu per satu mulai berdatangan, ketika sudah lengkap, kita mulai bersepeda bersama-sama menuju sekolah. Gua baru sadar saat itu kalau gua satu-satunya junior, tapi gak masalah, yang penting bersepeda bersama. Sesampainya di sekolah, seketika kita menjadi pusat perhatian warga sekolah, mungkin karena gak biasa aja, di pagi hari, ada romobongan siswa yang bersepeda ke sekolah dengan bermacam-macam model sepeda, mulai dari sepeda lipat, sepeda gunung, sepeda ontel, dan lain-lain. Kita pun ke kamar mandi untuk mengenakan seragam, setelah itu berpisah, gua belajar, dan mereka harus mengerjakan ujian tryout. Sepulang sekolah, di tempat parkir hanya tinggal sepeda gua, mereka sudah pergi lebih dulu ke Hoek, karena memang mereka pulang lebih cepat. Gua pun langsung saja bersepeda menuju Hoek. Sesampainya disana, benar saja, mereka semua sudah bersantai, bermain kartu, dan istirahat. Sementara, gua masih lelah, pusing, dan lapar, akibat Trigonometri. Akhirnya gua pun makan di warteg yang baru ada, sejak 3 hari lalu di Hoek, gua pun makan banyak, karena sudah sangat lapar, tapi ternyata gua cuma menghabiskan Rp 5000,- untuk semua yang gua makan! Memang luar biasa warteg baru di Hoek ini. Gua pun tiduran di Hoek sambil mendengarkan iPod, tiba-tiba Aldiw mengajak bersepeda pulang bersama salah seorang senior gua lainnya, Abby, yang pulang ke arah Pondok Gede, karena arah pulang kita sama-sama ke Bekasi, gua pun ikut pulang dengan mereka. Kita pun mulai bersepeda pulang, sebenarnya saat itu, gua berharap rumah Abby gak terlalu jauh dari Perumahan Departemen Dalam Negeri. Benar saja, saat kita sedang bersepeda di jalan, kita melewati Perumahan Departemen Dalam Negeri, dengan penuh rasa maaf, akhirnya gua pun memisahkan diri disitu, dan mereka lanjut pulang. Seakan hilang rasa lelah, gua pun bersepeda penuh semangat menuju rumah seseorang. Dulu gua sering mengantar dia pulang, tapi sama sekali belum pernah masuk ke dalam rumahnya, bahkan melewati pagarnya saja belum pernah. Sampai di depan rumahnya, pagarnya pun terbuka, gua mulai cemas orangnya gak ada dirumah, gua pun SMS dia, rupanya dia ada di rumah tapi sedang mandi, akhirnya gua pun menunggu. Setelah dia keluar dan menemui gua, gua pun akhirnya melewati pagar rumahnya untuk pertama kalinya! Gua istirahat sejenak disana, berbincang-bincang seperti yang dulu biasa kita lakukan ketika telfon, tapi rasanya lebih enak, karena ini langsung dan tanpa mengurangi pulsa sedikit pun. Tanpa terasa, Maghrib pun tiba, gua pun menumpang Shalat Maghrib di rumahnya, kemudian kita kembali berbincang dan melepas rindu, karena sudah lama gak pernah bertemu, setelah itu gua pun harus melewati bagian terberat pada hari itu, yaitu pulang. Sebenarnya gua sudah gak kuat untuk bersepeda lagi, tapi gua gak punya pilihan lain untuk pulang. Akhirnya gua pun bersepeda pulang dengan sisa tenaga gua, melewati macetnya Jati Asih, polusi Pondok Gede, ramainya Pekayon, dan akhirnya Alhamdulillah gua sampai di rumah dengan selamat.
Comments